Penyebab Thrips adalah serangga sepanjang 1-2 mm berwarna kuning, hitam atau berbelang. Beberapa varietas memiliki dua pasang sayap, yang lain tidak memiliki sayap sama sekali. Mereka berhibernasi dalam residu tanaman atau di tanah atau di tanaman inang alternatif. Mereka juga vektor untuk berbagai penyakit virus. Hama thrips kutu/serangga berwarna putih merupakan carrier atau pembawa virus yang menyebabkan penyakit keriting daun pada tanaman cabai. Apabila tanaman telah terserang virus yang dibawa oleh hama thrips, penanggulangannya akan sulit karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut tanaman terinfeksi tersebut dan memusnahkannya dengan cara dibakar. Pernyataan tersebut diperoleh berdasarkan โ€ฆ. A. hipotesis penelitian B. percobaan penelitian C. hukum dan landasan teori D. observasi dan pengumpulan informasi E. eksperimen untuk membuktikan hipotesis Jawaban D Pembahasan Pernyataan pada soal diperoleh dari observasi dan pengumpulan informasi. Masalah yang diketahui adalah adanya hama thrips yang dapat menyebabkan penyakit keriting daun tanaman cabai. Maka langkah selanjutnya, yaitu pengamatan dan pengumpulan informasi, dimana pada pengamatan diketahui tanaman cabai yang terserang virus dari hama thrips akan susah ditanggulangi karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasinya. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D. PengendalianNasa Penyakit Keriting Daun Thrips Pada Cabai. kutu putih SERANGGA HAMA MISWANTO AGROTEKNOLOGI. KUTU PUTIH Paracoccus marginatus agroteknologi. HAMA PENYAKIT TANAMAN JERUK รขโ‚ฌ" CV CEMPAKA MULYA. menjadi berwarna hitam' 'Hama Kutu Putih pada Ubi Kayu Info Teknologi Berita April 18th, 2018 - Gejala yang timbul akibat

Mengatasi Daun Keriting Tanaman Cabai - Ada beberapa hama dan penyakit yang sangat berbahaya terhadap tanaman cabai salah satunya adalah penyakit daun keriting. Penyakit ini merupakan sesuatu yang sangat mengerikan bagi petani karena dapat menyebabkan gagal total tanpa ada hasil panen sama daun keriting cabai kebanyakan disebabkan oleh virus yang merusak klorofil daun yang berakibat pada terganggunya pertumbuhan dan menurunnya produksi buah bahkan bisa mengalami kematian daun keriting pada tanaman cabai diawali oleh hama thrips, yaitu kutu atau serangga berwarna putih, panjang tubuh lebih kurang 1 mm, serangga ini tergolong kecil namun dapat dilihat dengan mata telanjang, hama ini pemangsa segala jenis kutu ini menyerang tanaman muda secara bergerombol dan daun yang terserang akan mengerut atau melingkar, cairan manis yang dikeluarkan oleh kutu ini akan membuat semut dan embun jelaga berdatangan. Embun jelaga yaitu binatang berwarna hitam dan sering menandakan serangan kutu thrips sedeng kutu thrips dapat dilakukan dengan furadan 3G dengan dosis 60-90 kg/ha atau sekitar 2 sendok makan/10 m bujur sangkar serangan hama Thrips atau kutu putih adalahAdanya strip-strips pada daun dan berwarna keperakan seperti noda akibat dimakan kutu thripsKemudian warna tersebut berubah menjadi coklat mudaKutu thrips berada pada bagian bawah daun dan mudah terlihat disaat pagi hari atau sebelum terik matahari, kutu thrips pada saat terik hari akan sembunyi disela โ€“ sela daun sehingga kurang kutu thrips merupakan sebagai carrier atau pembawa virus yang menyebabkan penyakit keriting daun pada tanaman cabai, apabila tanaman telah terserang virus yang dibawa oleh kutu thrips maka penanggulangan akan sulit karena tidak ada obat kimia yang dapat mengatasi, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut batang dan dimusnahkan dengan cara gejala serangan virus adalahBercak kuning diatas permukaan daun, perlahan meluas hingga seluruh permukaan daun besar daun yang terserang akan menjadi lebih kecil dari ukuran melengkung dan terlihat kuning daun sebagian besar permukaan daun terdapat hama / kutu berwarna Pencegahan Daun Keriting CabaiUntuk mencegah daun cabai menjadi keriting dapat dilakukan pencegahan sebagai berikutAwal tanam Furadan 3G, dosis 60 โ€“ 90 kg / Ha atau 2 sendok makan / 10 meter bujur sudah tumbuh Curacorn 500 EC, Nudrin 215 WSC atauTukotion 500 EC, dosis 2-3 ml/ sudah cukup besar Nugos 50 EC, Azodrin 15 WSC, Nuracron 20 WSC. dosis 2-3 ml / penyakit keriting daun, penyakit lain dapat digunakan fungisida Dihtane M45, Antracol, Cupravit, dosis 2 โ€“ 3 ml / Pengendalian Daun Keriting CabaiAda beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanaman cabai yang terserang hama dan penyakit daun keriting adapun caranya adalah sebagai berikut Pengendalian Kultur Teknis Membuat border atau pagar disekeliling lahan budidaya cabai yaitu tanaman jagung atau dengan memasang pagar berupa plastik setinggi 1,5-2 m. Tanaman jagung ditanaman 1 bulan sebelum tanaman cabai. Pagar plastik dioles dengan minyak goreng, agar serangga menempel pada penyemprotan pada tanaman cabai yang terserang dengan air pada pagi dan sore hari. Hal ini dimaksudkan agar serangga tidak aktif untuk berkembang biak. Sehingga tidak terjadi ledakan Hama Tanaman Cabai Secara OrganikBahan 1 kg daun brotowali daun-daun yang pahit ,10 sendok makan kapur,1 kg kunyitCara Buat ketiga bahan tadi ditumbuk dan diambil airnya lalu dicampur dengan air 30 โ€“ 50 Aplikasi disemprot kedauan secara merata dengan stelan Kimia dengan PestisidaBahan kimia yang saya rekomendasikan adalah campuran bahan aktif Abamektin dan Imidakloprit dengan perbandingan bahan 11 .Jika tanaman cabai sudah terlanjur terserangan dan pertumbuhannya terlihat tidak normal maka setelah serangga dikontrol dengan pestisida maka dilanjutkan dengan penyemprotan hormon pemacu pertumbuhan seperti GA3, Atonik, atau pupuk informasi tentang cara mencegah dan mengatasi daun cabai keriting semoga dapat membantu mengatasi masalah pada tanaman cabai anda.

Hamathrips merupakan salah satu jenis hama tanaman yang seringkali merugikan petani. Pengertian hama sendiri adalah organisme yang mengganggu pertumbuhan dan juga perkembangan dari tanaman. Jika tidak segera diatasi, entah dengan cara yang alami ataupun kimia, hama tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya gagal panen bagi petani. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Bab I KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI KLASIFIKASI Kingdom Animalia Phylum Arthropoda Kelas Insecta Sub Kelas Pterygota Super Ordo Exopterygota Ordo Thysanoptera thysanos = umbai; pteron = sayap Sub Ordo Terebrantia Tubulifera Famili Thripidae Genus Thrips Spesies Thrips tabaci thrips bawang Dorsalis scirtothrips Thrips fuscipennis thrips mawar Thrips palmi thrips melon Frankliniella tritici Thrips parvispinus thrips cabai Frankliniella occidentalis western flower thrips Frankliniella intonsa the European flower thrips Aelothrips fasciatus Ceratothrips ericae Heliothrips haemorrhoidalis thtips greenhouse Hercinothrips femoralis Parthenothrips dracaenae Thrips atratus Thrips nigropilosus Thrips simplex Thrips trehernei Thrips vulgatissimus MORFOLOGI Thrips adalah kelompok serangga berukuran kecil, bertubuh ramping, yang termasuk ke dalam ordo Thysanoptera thysanos = umbai; pteron = sayap. Thrips adalah kata Yunani yang juga bisa berarti kutu kayu. Jadi golongan ini terdiri dari serangga yang bersayap umbai, yang menjadi salah satu ciri morfologis yang paling penting. Hingga kini, 5000 spesies thrips telah diidentifikasi. Lima puluh persen di antara spesies thrips tersebut makan jamur, baik pada hifa maupun spora jamur, dan sisanya adalah pemakan tumbuhan dan predator thrips yang lain. Thrips bertubuh silindris memanjang, dengan panjang hanya 1 โ€“ 2 mm, meskipun ada yang mencapai 13 mm, dan kebanyakan berwarna hitam. Thrips mempunyai alat mulut yang bertipe pencucuk-pengisap, meskipun lebih tepat disebut sebagai JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 pemarut. Bentuknya pendek, buntak, tidak simetris. Thrips akan mengisap cairan tumbuhan yang keluar dari jaringan yang terlebih dahulu dilukai dengan mulutnya. Thrips adalah serangga yang mobilitasnya rendah; meskipun mereka mempunyai sayap, mereka tidak banyak menggunakannya untuk terbang. Oleh karena itu, thrips mudah ditemukan secara berkelompok menghuni sehelai daun bersama dengan telur dan nimfanya. Reproduksi thrips tergolong tinggi, dan beberapa di antaranya mempunyai model reproduksi partenogenesis, beberapa arrhenotoky partenogenesis dengan telur yang tidak dibuahi menjadi individu jantan haploid dan thelytoky partenogenesis dengan telur yang tidak dibuahi menjadi individu betina. Metamorfosis thrips di antara tipe hemimetabola sederhana dan sempurna, karena melewati masa prepupa dan pupa yang inaktif. Jadi, dua tahap nimfa sifatnya aktif, diikuti oleh tahap ketiga yang disebut prepupa, dan tahap keempat yang berupa pupa. Beberapa spesies tirip predator ditemukan di alam, misalnya spesies yang termasuk ke dalam famili Aeolothripidae. Sementara itu, tirip dari famili Merothripidae makan pada jamur yang tumbuh pada bagian tumbuhan yang sudah lapuk. Tirip juga dibuktikan merupakan serangga penyerbuk, mungkin karena aktivitasnya pada bunga secara tidak sengaja memindahkan serbuk sari. Beberapa spesies thrips juga berbahaya karena menularkan patogen, misalnya virus dari golongan Tospovirus. Nimfa instar satu dan awal instar dua Frankliniella occidentalis famili Thripidae dapat menularkan Tomato spotted wilt virus TSWV, salah satu jenis penyakit berbahaya pada tomat. SIKLUS HIDUP THRIPS Siklus hidup thrips terdiri atas empat fase, yaitu telur, fase larva dan nimfa, fase prs-pupa dan pupa, dan imago dewasa. Satu siklus bisa memakan waktu satu bulan, namun bervariasi tergantung pada temperatur dan spesiesnya. Telur dari hama ini berbentuk oval atau bahkan mirip seperti ginjal manusia. Ordo ini dibagi menjadi dua sub-ordo, yaitu Terebrantia dan Tubulifera. Dua subordo ini dibedakan oleh bentuk ujung abdomen. Thrips Terebrantia mempunyai ujung abdomen berbentuk tumpul, dan mempunyai ovipositor untuk menyisipkan telur, sedangkan thrips Tubulifera mempunyai ujung abdomen berbentuk silinder. Telur Tubulifera dikeluarkan melalui ovipositor yang dapat ditarik ulur. Ukuran telurnya sangat kecil maka sering tak terlihat dengan mata telanjang. Telur ini diletakkannya dalam jumlah yang banyak, dengan rata-rata 80 butir tiap induk. Letak telur akan mudah diketahui dengan memperhatikan bekas tusukan pada bagian tanaman tersebut dan biasanya disekitar jaringan tersebut terdapat pembengkakan. Telur-telur ini akan menetas sekitar 3 atau 7 hari setelah peletakan oleh imago betina. JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Telur thrips sub-ordo Terebrantia yang disuntikkan ke dalam jaringan daun Larva yang baru menetas segera memakan jaringan tanaman. Nimfa Mereka sangat mobile dan sering berpindah ke bagian lain dari tanaman. Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit. Fase Larva dan Nimfa Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung, biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya meningkat. Pada akhir instar ini, thrips turun ke tanah dan menjadi pupa pada atau di bawah permukaan tanah. Dalam beberapa spesies tahap pre-pupa dan pupa tetap berada pada tanaman. Tahap pupa tahan terhadap insektisida. Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Fase Pra-pupa dan pupa Fase dewasa imago adalah tahap reproduksi dan bersayap. Thrips adalah penerbang yang buruk, tetapi sayap berumbai mereka memungkinkan mereka untuk dengan mudah dibawa oleh angin. Fase dewasa Imago akan bergerak lebih cepat dibanding dengan nimfanya, telah memiliki sayap yang ukurannya relatif panjang dan sempit, imago ini tubuhnya berwarna kuning pu-cat sampai kehitam-hitaman. Serangga dewasa berukuran 1-2 mm. Imago betina dapat bertelur sampai 80 butir yang diletakkannya ke dalam jaringan epidhermal daun dengan bantuan ovipositornya yang tajam. Direktorat Perlindungan Tanaman, 1992. JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Siklus hidup thrips JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Bab II DAMPAK SERANGAN TERHADAP TANAMAN DAMPAK LANGSUNG PADA TANAMAN Beberapa spesies thrips berperan sebagai hama penting, selain karena menimbulkan kerusakan akibat aktivitas makan. Gejala serangan thrips amat khas. Daun yang terserang biasanya akan berwarna kekuning-kuningan, berbintik-bintik coklat, saling mengatup, dan berubah bentuk malformasi. Bagi petani bunga potong, serangan thrips dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar. Bunga cacat dan tidak laku dijual, atau harganya sangat murah. Serangan thrips pada bunga dimulai sejak awal pembungaan sampai mekar. Gejala serangan thrips pada berbagai komoditas pertanian DAMPAK LANJUTAN PADA TANAMAN Thrips telah menjadi vektor dari setidaknya empat kelompok virus, yaitu bunya-viruses, ilarviruses, sobemoviruses, dan caroviruses Ullman et al., 1994. Delapan spesies thrips dilaporkan sebagai vektor TSWV, yaitu Thrips tabaci Lindeman, Thrips setosus Moulton, Thrips palmi Karny, Frankliniella schultzei Trybom, Frankliniella occidentalis Pergande, Frankliniella fusca Hinds, dan Frankliniella intonsa Trybom Wijkamp et al., 1995, Ullman et al, 1997. Jelas, Frankliniella occidentalis western flower thrips atau thrips bunga barat dan Thrips tabaci thrips bawang adalah vektor umum dan penting dari beberapa virus tanaman di banyak daerah di dunia. 43 spesies thrips telah ditemukan di kebun tembakau di daerah Georgia, dan banyak dari spesies yang sama dite-mukan pada sayuran dan tanaman lain. Namun, hanya JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 lima jenis yang sering ditemui selama musim tanam dan termasuk thrips tembakau, thrips bunga barat, thrips bunga, Frankliniella bispinosa Morgan, dan Limothrips cerealium Haliday thrips gandum. Frankliniella fusca adalah spesies yang mendo-minasi pada dedaunan, dan biasanya menyumbang lebih dari 90 persen dari semua thrips dedaunan. Pada tanaman tomat, TSWV terutama ditularkan oleh thrips bunga barat, Frankliniella occidentalis Pergande, dan thrips tembakau, Frankliniella fusca Hinds. Thrips tabaci virus bawang menularkan virus mozaik virus kuning pada tanaman legum dan solanaceae. Tanaman yang sudah terserang virus mozaik sangat sulit untuk disembuhkan dan bahkan harus dimusnahkan agar tidak menulari tanaman lain. Virus mozaik membuat tanaman kerdil dan pertumbuhan terhenti, sehingga tanaman menjadi tidak produktif. JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Bab III PENGENDALIAN PENCEGAHAN Pencegahan tanaman dari serangan thrips dapat dilakukan dengan cara ๏ƒ† Pemasangan mulsa plastik hitam-perak, selain berfungsi sebagai pengendali gulma, mulsa plastik hitam-perak ini juga berfungsi memantulkan cahaya matahari ke bagian permukaan bawah daun tempat thrips bersembunyi. Selain itu, mulsa plastik juga akan menghambat sebagian thrips untuk masuk ke dalam tanah pada fase pupa. ๏ƒ† Pengendalian kelembaban dan suhu. Thrips menyukai tempat yang lembab dengan suhu sejuk. Oleh sebab itu, atur jarak tanam, lakukan perempalan/ pemangkasan pada tanaman agar sirkulasi udara lancar dan dapat mengurangi kelembaban serta meningkatkan suhu di sekitar pertanaman. ๏ƒ† Membuat pagar tanaman buffer penyangga. Tanaman penyanga ini adalah tanaman yang disukai oleh hama, sehingga pengendalian hama cukup dilakukan pada tanaman penyangga. Contoh Terung dan kacang panjang sebagai tanaman penyangga untuk kebun cabai. ๏ƒ† Bawang putih dapat digunakan sebagai penolak/pengusir thrips. Bawang putih yang di haluskan dan disemprotkan ke tanaman akan masuk ke dalam jaringan tanaman. Karena hama thrips ini tidak suka dengan bawang maka hama akan kabur dari tempat persembunyiannya. Pegendalian ramah lingkungan ini bisa dikombinasikan dengan insektisida kimia untuk thrips. PENGENDALIAN Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10 nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 % pada tanaman padi dan sayuran, maka perlu dilakukan pengendalian eradikasi. Pengendalian Secara Mekanis Pengendalian secara mekanis ini meliputi ๏ƒ† Memasang perangkap perekat misalnya dengan menggunakan Insect Adhesif Trap Paper IATP berwarna kuning. ๏ƒ† Melakukan pembersihan manual menggunakan kuas dan larutan air sabun. Hal ini hanya dilakukan untuk tanaman buah dalam pot tambulampot dan tanaman hias, tidak efektif dan efisien untuk diaplikasikan di kebun. ๏ƒ† Menyediakan kondisi pertumbuhan yang baik bagi tanaman untuk memastikan pertumbuhan yang cepat. Stres lingkungan yang melemahkan tanaman membuat mereka lebih rentan terhadap serangan thrips. Secara khusus, tanaman di bawah tekanan air sangat rentan terhadap kerusakan thrips langsung. Irigasi yang memadai merupakan faktor penting dalam meminimalkan kerusakan. ๏ƒ† Membajak dan mengerikan, dan solarisation dapat membunuh kepompong di tanah dari tanaman sebelumnya. JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 Pengendalian Secara Biologi Predator Karena ukurannya yang kecil dan tingkat reproduksi yang tinggi, thrips sulit untuk dikendalikan secara konvensional mekanis dan biologis. Predator thrips harus berukuran kecil dan ramping, sehingga mampu untuk masuk ke celah-celah tempat thrips bersembunyi dan memangsa telur dan larvanya. Hanya dua famili parasitoid hymenoptera yang diketahui sebagai parasit telur dan larva thrips, yaitu Eulophidae dan Trichogrammatidae. Agen biokontrol lain dari adalah aphid wasp tawon kutu, kutu anthocorid dari genus Orius , dan tungau Phytoseiid. Untuk alasan ini, banyak petani terkadang terpaksa harus membatasi penggunaan pestisida untuk mengen-dalikan populasi thrips di lapangan dan di rumah kaca. a Lady Bugs Hippodamia convergens b Brown lacewing Micromus timidus c Green Lacewing Chrysoperia carnea JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 d Hover Fly e Rove Beetle f Thrips Predator g Tungau Predator Phytoseiulus persimilis JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 h Amblyseius swirskii i Amblyseius cucumeris Parasit Strategi lain yang efektif untuk mengendalikan thrips adalah insektisida biologis, termasuk Beauveria bassiana atau Verticillium lecanii. Strategi ini menunjukkan efek yang signifikan pada telur, larva dan thrips dewasa. a Beauveria bassiana Balsamo Vuillemin Jamur Beauveria bassiana adalah jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang- benang halus hifa. Kemudian hifa-hifa tadi membentuk koloni yang disebut miselia. Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu ia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. b Metarhizium anisopliae var anisopliae Jamur M. anisopliae ini pertama kali ditemukan oleh Metschikoff pada tahun 1879, jamur ini bersifat parasitik terhadap serangga termasuk kumbang kelapa. Jamur ini biasanya disebut Green Muscardine Fungus dan tersebar diseluruh dunia. Jamur ini pertama kali digunakan untuk mengendalikan hama kumbang kelapa lebih dari 85 tahun yang lalu, dan sejak itu digunakan dibeberapa Negara termasuk Indonesia Tanada dan Kaya, 1993. Pengendalian Secara Kimia Pengendalian secara kimia secara umum ialah menggunakan insektisida baik yang sintetis maupun organik. Penyemprotan insektisida kimia secara bijaksana dan aplikasi yang tepat, seperti ๏ƒ† Noozle diatur sedemikian rupa agar larutan insektisida keluar dalam bentuk kabut fogging, sehingga partikel larutan dapat masuk ke sela-sela bagian tanaman tempat bersembunyi thrips secara merata. ๏ƒ† Penyemprotan insektisida dilakukan pada pagi dan/atau sore hari ketika thrips masih berkeliaran di permukaan tanaman dan dikonsentrasikan pada bagian permukaan bawah daun, tunas, bunga, dan pucuk tanaman. JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN ๏‚˜ WAHYU SYLVITRIA B. NPM 41205420109013 DAFTAR PUSTAKA Budhiyono, Wahyu S. 2006. Pengendalian Hama Terpadu dengan Agen Hayati dalam Pertanian Organik. Papper dalam pelatihan pertanian organik PT. Mars Agro Indonesia. Budhiyono, Wahyu S. 2007. Penggunaan Nano Green dalam Menanggulangi Wabah Virus Mozaic Pada Tanaman Pepaya. Laporan Riset PT. Mars Agro Indonesia. Budhiyono, Wahyu S. 2011. Budidaya Tanaman Cabai Dengan Nutrimas. Sisdur aplikasi produk Nutrimas pada tanaman cabai Capsicum annum. PT. Nutrimas Agro Indonesia. Website Center for Invasive Species Research, University of California Riverside. Tulisan dan email dengan John Trumble, Professor of Entomology. Lewis, T. 1997. Thrips as crop pests. CAB International, Oxon, GB. CAB Inter-national, Oxon, GB. E-book, downloaded 20/10/2011 WB Hunter, DE Ullman & A. Moore 1997. "Electronic monitoring characterizing the feeding behavior of western flower thrips Thysanoptera Thripidae". di MM Ellsbury, EA Backus & DL Ullman. History, Development, and Application of AC Electronic Insect Feeding Monitors. Thomas Say Publications in Entomology. Halaman 73-85. E-book, downloaded 20/10/2011 WDJ Kirk 1996 Thrips Naturalists' Handbooks 25. The Richmond Publishing Company. DocStock, downloaded 20/10/2011 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this as crop pests. CAB International, Oxon, GB. CAB InternationalT LewisLewis, T. 1997. Thrips as crop pests. CAB International, Oxon, GB. CAB International, Oxon, GB. E-book, downloaded 20/10/2011Pengendalian Hama Terpadu dengan Agen Hayati dalam Pertanian OrganikDaftar Pustaka BudhiyonoS WahyuDAFTAR PUSTAKA Budhiyono, Wahyu S. 2006. Pengendalian Hama Terpadu dengan Agen Hayati dalam Pertanian Organik. Papper dalam pelatihan pertanian organik PT. Mars Agro Nano Green dalam Menanggulangi Wabah Virus Mozaic Pada Tanaman PepayaWahyu S BudhiyonoBudhiyono, Wahyu S. 2007. Penggunaan Nano Green dalam Menanggulangi Wabah Virus Mozaic Pada Tanaman Pepaya. Laporan Riset PT. Mars Agro Tanaman Cabai Dengan Nutrimas. Sisdur aplikasi produk Nutrimas pada tanaman cabai Capsicum annumWahyu S BudhiyonoBudhiyono, Wahyu S. 2011. Budidaya Tanaman Cabai Dengan Nutrimas. Sisdur aplikasi produk Nutrimas pada tanaman cabai Capsicum annum. PT. Nutrimas Agro Naturalists' Handbooks 25. The Richmond Publishing CompanyKirk WdjWDJ Kirk 1996 Thrips Naturalists' Handbooks 25. The Richmond Publishing Company. DocStock, downloaded 20/10/2011Pengendalian Hama Terpadu dengan Agen Hayati dalam Pertanian Organik. Papper dalam pelatihan pertanian organik PTWahyu S BudhiyonoBudhiyono, Wahyu S. 2006. Pengendalian Hama Terpadu dengan Agen Hayati dalam Pertanian Organik. Papper dalam pelatihan pertanian organik PT. Mars Agro aplikasi produk Nutrimas pada tanaman cabai Capsicum annumWahyu S BudhiyonoBudhiyono, Wahyu S. 2011. Budidaya Tanaman Cabai Dengan Nutrimas. Sisdur aplikasi produk Nutrimas pada tanaman cabai Capsicum annum. PT. Nutrimas Agro Indonesia. UcVTCya.
  • g2ta1m732k.pages.dev/390
  • g2ta1m732k.pages.dev/260
  • g2ta1m732k.pages.dev/224
  • g2ta1m732k.pages.dev/389
  • g2ta1m732k.pages.dev/89
  • g2ta1m732k.pages.dev/379
  • g2ta1m732k.pages.dev/309
  • g2ta1m732k.pages.dev/11
  • hama thrips kutu serangga berwarna putih merupakan carrier